Perempuan Berkalung Surban

Akhirnya mood memuali perbloggingan lagi, dimulai dari ini :
Title : Perempuan Berkalung Surban ( Women with Turban )
Directed : Hanung Bramantyo
Artist : Revalina, Oka Antara, Reza Rahardian

Semua ini dimulai dari sebuah pondok pesantren di Jawa Timur tahun 1985, namanya Al – Huda, yang pada akhirnya ku yakini sebagai Gontor. Ada seorang cewek, namanya Annisa, dia neh anak kiai disitu. Lain dari yang lain, Annisa merasa hidupnya itu seharusnya nggak kayak perempuan2 dimasa itu, yang harus ada di dapur, dan mengurus suami. Sejak kecil, meski dengan sembunyi2, dia mulai belajar naik kuda, diajari Lek Khudori, teman sejak kecilnya, yang padahal saat itu, naik kuda juga terlarang untuk perempuan. Annisa dan Lek bersahabat erat dan bahkan saling mencintai pada akhirnya. Tapi, Lek meneruskan pendidikan pondoknya ke Kairo, selama bertahun2. Tapi, Annisa dan Lek tetap berhubungan lewat surat. Sampai suatu saat, ketika Annisa ingin meneruskan kuliah, yang tentu saja nggak boleh sama ortunya, alasannya, karena dia nggak ada muhrim, jadinya, Annisa dinikahkan dengan Syamsudin, anak seorang kiai juga, yang ortunya adalah donator terbesar ponpes milik ayah Annisa, hubungan Annisa dengan Lek juga terputus. Lain di muka lain belakangnya. Ternyata Syam bukannya orang yang baik2 dan berakhlak mulia, dia ternyata jahat, kasarnya gitu, yang menikahi Annisa juga kayaknya buat muasin kebutuhan biologisnya aja. Annisa juga nggak boleh kuliah2, seperti janjinya dulu. Dan ternyata juga udah ngehamilin perempuan lain, yang akhirnya dijadikan istri kedua. Annisa udah nggak tahan lagi, dia pengen cerai dengan Syam. Eh, lalu dia malah dituduh zina dengan Lek ma Syam. Ampe ayahnya meninggal.


Setelah itu sih. Dia akhirnya keluar dari pesantren. Ke Jogja, kuliah dan kemudian bertemu dengan Lek lagi. Singkat aja ya. Akhirnya, menikahlah Annisa ma Lek, punya anak, kembali ke pesantren, berusaha mendobrak cara pesantren yang kolot, dengan memberikan buku2 yang 'dilarang' ma pesantren karena dianggap nggak mendidik. Setelah itu dia mengalami cobaan. Buku2 itu dibakar, si Lek meninggak kecelakaan. Tapi, akhirnya sih, dia berhasil 'membuka' mata orang2 pesantren. Ya, intinya sih happy ending. Kenapa di juluki berkalung surban? Ya, kalo menurut temenku yang sma2 nonton waktu itu, itu karena si Annisa yang notabene perempuan mau setara dengan laki2, yang dalam hal ini diidentikkan dengan surban gitu. Setelah lama, film ini jadi kontroversi, yang aku masih nggak ngerti kenapa..Heran, padahal filmnya bagus ...

sixbuble

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment