Selamat Ulang Tahun, Bintang

*Sekali lagi, blog ini termanfaatkan :), tulisan di bawah ini tulisan yang udah aku kirimin buat lomba FF (jadi rajin ginian - ketularan anak", hho), terdiri dari 333 kata (tidak termasuk judul). Ehm, enjoy!! Need your comment :D*
------------------------------------------------------------------------------------
Hai.
Selamat ulang tahun. Kamu tahu apa yang ku lakukan malam ini? Aku memandang langit malam ini, langit yang sama dengan yang aku lihat denganmu waktu itu. Bahkan, sekarang ku rasa aku sedang melihatmu. Airmataku mengalir mengingatmu. Aku tak bisa lagi membuatkan kue coklat kesukaanmu dan membawanya dengan lilin – lilin yang menyala di tengah malam ke kamarmu.
Apa kamu ingat malam itu? ketika kita berdua melihat langit, melihat ada bulan dan bintang, waktu aku bilang, ‘Romantis sekali mereka, coba kamu lihat, cuma ada satu bintang dan bulan’, kamu waktu itu hanya tertawa menanggapiku. Aku berkata lagi, ‘Coba deh lihat, bintang itu memandangi bulan, seperti merindukannya’. Lalu kamu bilang, ‘Bodoh, bintang itu nunggu bintang yang lain, dia nunggu pengantin semestanya, bulan itu cuma sahabatnya, dia cuma bakalan jadi pengiring bintang di hadapan Tuhan’. Waktu itu aku melongo mendengar kata-katamu, lalu akhirnya aku tertawa, kita tertawa.


Kita meneruskan berimajinasi tentang bintang dan bulan berhari-hari kedepannya. Berandai-andai kalau kita menjadi seperti mereka. Aku bilang aku ingin jadi bulan, tapi, kamu tidak setuju. Aku tak tahu kenapa. Kamu bahkan tidak mengatakan keinginanmu saat itu, katamu, biar saja aku penasaran. Kamu selalu seperti itu, introvert.
Sifatmu yang seperti itu yang membuatku selalu menunggu. Karena aku tak tahu perasaanmu padaku. Aku itu seperti bintang yang memandangi bulan di langit malam itu, merindukanmu meski kita berada di langit yang sama, merasa jarak kita terus merenggang meski setiap hari aku disampingmu. Rasanya lelah, tetapi entah kenapa aku tetap melakukannya. Yang aku tahu aku menyayangimu, itu saja.
Aku masih ingat di awal pertemuan kita, kamu memelukku yang sedang menangis. Kamu bilang, ‘Mulai sekarang jangan menangis, sekarang ada aku’. Setelah itu, aku bersamamu. Dan ketika kamu meninggalkanku hari itu. Baru ku tahu semuanya, kamu menggenggam tanganku dengan tanganmu yang berdarah. Dengan lemah kamu berkata, ‘Kamu jangan jadi bulan, kamu harus jadi bintang, karena aku akan menunggumu, menunggu disana dan menjadikanmu pengantin semestaku.’. Aku menangis lagi di akhir pertemuan kita.
Bintang, apa kamu baik – baik saja disana? Apa Tuhan membawakanmu kue coklat hari ini?

sixbuble

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment