Harapan Dikabulkan

Aku pernah membaca, tentang seorang yang sangat menginginkan suatu hal. Namanya, Amin. 
Amin tahu kalau sebenarnya hal yang diinginkannya itu terlalu jauh untuk dicapai.
Jadi dia hanya bisa berdoa, dia hanya bisa berharap, memberi ketukan kecil pada pintu langit.
Lama dia berharap, dan keinginan itu tetap belum bisa didapatkannya.
Dia marah, emosinya terlihat dari wajahnya yang merah. 

'Kalau satu doa hanya akan mengetuk pintu langit sekali, bagaimana kalau ku kirimkan banyak doa, dari orang - orang yang berbeda?
Aku akan memaksa mereka untuk mendoakanku, mengamini harapanku. 
Biar ratusan doa itu mendobrak pintu langit. 
Biar Tuhan akhirnya mendengar dan mengabulkan harapanku'.

Amin kemudian berkeliling, tiap hari dia mendatangi teman yang dikenalnya.
Meminta mereka merapal doa yang sama.
Dan kau tahu, harapan itu akhirnya dikabulkan, setelah sekian lama itu akhirnya terwujud!
Apa yang bisa kau percayai?

Mungkin itu memang keajaiban doa, mungkin dobrakan itu akhirnya berhasil, atau memang Tuhan baru mendengar suara ketukannya?
Lalu, apakah kalau kita bersama - sama meneriakkan harapan yang sama, harapan itu akan lebih mudah dikabulkan?
Aku juga tak tahu.

-iMa

Khuzaima Kousni

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment