Bagaimana kau ingin mengakhiri percintaanmu?


"Bagaimana kau ingin mengakhiri percintaanmu?", itu yang ditanyakan Kei kemarin malam. Membuat adukan seperempat gelas es batuku terhenti.

"apa seperti Rahne, mengangkat telpon tengah malam, menguatkan hati untuk bertanya apa dia masih mau di tunggu? Lalu menangis beberapa malam?"

"atau seperti Hana, menjauh pelan - pelan, tidak menyapanya, menghindari semua tentangnya, tapi ketika dia memberitahumu bahwa dia akan pergi, kaki mu tak kuasa mengantarkannya ke bandara, memeluk dan mendoakannya?"

"atau malah seperti W, nekat ke Paris sendirian, mengobrol seperti keadaan baik - baik saja, melihatnya dengan mata kepalamu sendiri dia lebih bahagia, kemudian pulang dengan tangis berderai tapi senyum tak kunjung hilang?"

"Aku tidak tahu", mengingat bagaimana cara teman - temanmu mengakhiri percintaannya bukan cara yang sehat. Kamu bahkan ikut menangis ketika mereka melakukannya, lalu sekarang kamu ingin mencontoh salah satu nya? Ah.

"Oh come on! Do you even know where on earth is he? Dia bahkan nggak pernah angkat telponmu!", ya ya, yang di katakan Kei benar juga. Tanpa melihat aku tahu muka nya memerah menahan marah.

"Mungkin, aku akan melihatnya meninggalkanku", lanjutku kemudian. 

"Lalu kamu akan menunggu? You deserve someone better than him. Cih"

"Menunggu? Tidak, Kei, aku akan melanjutkan hidupku", kurasa aku benar - bentar gila. Melepasnya? Hmm.

Kei meletakkan kopinya, kerutan di dahinya bertambah satu. Mungkin dia hanya heran melihat perubahan sikapku.

"kalau dia mencintaiku, dia tidak akan meninggalkanku. Masuk akal kan?", lanjutku kemudian.

"Kamu tidak mengejarnya lagi? Atau kamu memang benar-benar sudah sadar dia tidak perlu kau kejar, huh?", sial! Kei menyindirku habis-habisan

"Kurasa tidak, untuk apa? Sepertinya saat ini semua sudah cukup.", mungkin sudah saatnya berhenti kan? Iya kan?

"Kalau dia kembali?", sepertinya Kei memang mencari masalah denganku.

"Ya, kita lihat saja nanti. Belum tentu saat itu terjadi aku tidak sedang mencintai orang yang mencintaiku, bukan? Orang selain dia", dan entah kenapa aku yakin dia akan kembali, miris sekali.

"Good Then", senyum Kei tidak lepas malam itu, aku tidak tahu kenapa. 

Sekarang yang ku pikirkan, apa aku benar akan melakukan semua yang ku katakan tadi malam? Time will tell.

***



P.S : Sempet di protes gara - gara posting makanan mulu, yes! akhirnya aku nggak posting tentang makanan kan ini? *kedip kedip* 
anyway, it's no offense, tapi kalo aku di tanya Kei pertanyaan itu, mungkin aku akan menjawab hal sama, capek sekali diacuhkan >.< *curhaat, bubaar bubaaar*

Love you,
-iMa

Khuzaima Kousni

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment