MOVIE REVIEW : Inside Out (2015)



Eh, udah empat hari loh.. :D
Kali ini, bahas film aja lah yaa.. Memanfaatkan tcash, saya nonton Inside Out *lumayan, hemat 25k :p*. Another must watch animation movie in 2015 after.. hmm, HOME, maybe? Rating di IMDB terakhir saya lihat juga 8.6 *rotten tomatoes bahkan 98%!!*, jadi rujukan banget waktu mau nonton, hahaha.

Film ini tentang remaja bernama Riley dan emotions *i dunno what to called them* di dalam dirinya : Joy, Sadness, Angry, Disgust, dan Fear. Dari awal nonton saya udah dimanjakan oleh film pendek tentang gunung sebagai pembuka, dan pas akhirnya masuk ke film ini, whooaa.. penulisnya punya imajinasi yang luar biasa *standing ovation 

*adegan penentuan :p*

Di artikel ini bilang kalo Pete Docter, penulisnya terinspirasi dari anaknya sendiri waktu bikin cerita ini. Percayalah, dengan 6 karakter emosi di dalam otak Riley *dan otak semua yang ada di film ini* film ini benar - benar ngutek - ngutek emosi yang nonton *ato saya aja yang baper? hahahaha*. Back to the story, Riley disini diceritakan sebagai pribadi menyenangkan yang selalu ceria. Joy sangat berperan di otaknya. Sampai suatu hari, orang tua Riley memutuskan untuk pindah rumah, dan krisis emosi dimulai disini.
*the emotions*

Sebelumnya, diceritakan bagaimana emotions di dalam Riley ini bekerja, mereka punya "control panel" sendiri untuk bagaimana Riley menghadapi kehidupannya. Saya paling suka imajinasi ketika Riley menghadapi suatu momen di hidupnya, bola - bola memori akan masuk ke "control panel room" para emotions dan warnanya sesuai dengan apa yang dirasakannya. Bisa jadi kuning (joy) atau mungkin hijau (disgust). Bahkan, ada "pulau" yang menjadi intisari kehidupan Riley, seperti "pulau" keluarga, teman, dan hokky!

*control panel room*

Mimpi buruk soal krisis emosi berlanjut karena inti memori Riley, yang harusnya menyimpan kenangan manis, tanpa sengaja tersentuh oleh Sadness (jadi warna biru) dan perlahan - perlahan membuat Riley kehilangan jati diri yang selama ini ditampilkannya. Dan tentu saja karena kejadian ini para emotions tidak tinggal diam, mereka ingin mengembalikan Riley jadi sosok yang ceria. 


Perjalanan emotions ini lah yang jadi inti cerita. Dari akhirnya Joy dan Sadness terbuang dari ruang "control panel" mereka, Riley yang semakin tidak terkendali, "pulau" yang mulai runtuh, pertemuan dengan Bing Bong (dan saya nangis di akhir cerita Bing Bong T_T), terperosok ke lembah memori yang di lupakan.. aakk~ *nahan diri buat nggak spoiler lebih dalam*

*I miss Bing Bong already :( *

But, it has a happy ending :))
Konklusinya *halah* setiap manusia punya emosi dasar sama seperti Riley ketika anak - anak, persis seperti 6 karakter emotions yang di tampilkan. Tapi, ketika kita beranjak dewasa, hal - hal yang terjadi disekitar kita lah yang menentukan bagaimana kita di masa depan. Ketika bahkan kesedihan pun harus di rangkul untuk mencapai kebahagiaan. Ketika emosi kita tidak lagi cukup mewakili emosi dasar, tapi juga jadi complicated. Well, complicated tidak selalu berakhir buruk, kan? 

Karena film ini masih tayang, yang belum nonton, ini rekomen lah! Disney Pixar kali ini bikin saya jatuh hati <3




Love,
-iMa

P.S : Day four of #khuzaimachallenge completed!
P.P.S : OST nya jadi OST post ini juga :p, ohya, gambarnya nyomot di google hahaha

Share:

0 comments