Judul: Hujan Matahari
Penulis: Kurniawan Gunadi
Penerbit: Canting Press
Dimensi: xii + 206 hlm; 14 x 20 cm
ISBN: 978 602 19048 1 7

Hmm, bagaimana kalo saya cerita dulu gimana ketemu sama Kurniawan Gunadi ini?
Setahunan yang lalu, saya menemukan musikalisasi puisi via SoundCloud yang dibacakan Rahne Putri. Tahu nya sih ini dari tulisan - tulisannya sendiri ataupun kolaborasi dengan Zarry Hendrik, mereka punya buku juga anyway.

Dan suatu pagi (saya inget banget karena hari itu harus lembur subuh - subuh), seseorang mengirimkan voice note via WhatsApp yang mirip - mirip suara Rahne. Berkat googling, saya akhirnya tahu voice note tak berjudul itu merupakan musikalisasi tulisan milik Kurniawan Gunadi, dengan judul 'Karena Apa', yang juga bisa dibaca di bab terakhir buku ini.

Karena tulisan itu, saya jadi kepo dengan tumblr si masgun - panggilan akrab Kurniawan Gunadi - dan well, saya cukup suka tulisan - tulisannya. Sampai akhirnya, ternyata dia publish buku 'Hujan Matahari' yang nggak bisa di beli di toko buku.

Saya menerima buku ini sekitar 2-3 bulan lalu, membaca sekitar setengah buku dalam 2-3 hari setelahnya, berhenti, dan baru kemarin saya menyelesaikan dalam beberapa jam. Kenapa? entahlah, 2-3 hari membaca setengah buku waktu itu perjuangan yang (agak) berat bagi saya. Mungkin karena ekspektasi saya yang salah.

Dibagi dalam tiga bab besar : Sebelum Hujan, Gerimis, Hujan, dan Reda *yang saya nggak ngerti tujuannya apa, karena mirip semua*. Hujan Matahari merangkum puluhan tulisan pendek yang meskipun di tulis laki - laki, tetap well-noted buat perempuan. Saya seperti menebak - nebak sosok masgun, karena ya, tulisannya berasa nyata, masih dalam kehidupan sehari - hari, kebanyakan self-talk, tentang cinta dan menyenangkannya tentu saja karena banyak hal tentang hujan *eh. 
  
Gerimis. 
Bab ini yang paling fiksi menurut saya. Banyak tokoh hadir, beberapa merupakan percakapan. Ada cerita 'Bulan Kaca' yang bikin saya ingat dengan film 'Miracle in Cell number 7'. Lalu ada juga 'Kopi Manis Tanpa Gula' *saya suka ini!* dan 'Ditunggu' yang nggak jauh soal pertemuan - jodoh. Kemudian ada 'Temanku, Hujan' yang jadi penutup yang manis. 

Perempuan, kata orang ditakdirkan untuk menunggu. Itu kata orang, tapi lain kata mamak. Mamak bercerita, perempuan itu sejatinya menunggu. (Ditunggu, halaman 73)


Hujan. 
Bab ini jadi favorit saya, meskipun sebenarnya nada nya juga nggak jauh beda dengan Gerimis. Tapi, disini kebanyakan (saya tebak) merupakan self-talk si penulis sendiri. Banyak yang minta di quote! Masih tentang cinta, masih juga tentang sosok yang melindungi diri nya sendiri bahwa cinta akan datang nanti pada waktunya. Saya suka tulisan dengan judul 'Benteng Terakhir', 'Memilih Diam', 'Memastikan Rasa', juga 'Dinding'. 

Memilih diam adalah pilihan yang sulit, jauh lebih sulit daripada mengutarakan. Diam membutuhkan seluruh kesabaran dan keberanian untuk menahan diri. Namun, mengutarakan atau menyatakan tetaplah menjadi satu hal yang dipersialkan matang - matang agar tidak terjadi kesalahan (Memilih Diam, halaman 153)

Memastikan perasaan membutuhkan waktu yang berbeda bagi setiap orang. Bahkan, ada yang bertahun - tahun. Memendamnya hanya untuk memastikan, benarkah? Hingga pada jawaban terakhir, ketika setiap pemilik rasa mau dan mampu berdamai dengan perasaannya. Ada yang jawabannya ternyata benar dan ada yang ternyata selama ini salah. (Memastikan Rasa, halaman 157)


Reda.
Mungkin bab ini yang paling gombal haha, kalo dibandingkan dengan dua bab pendahulunya, isi bab ini yang paling banyak tulisan pendek tak sampai satu halamannya. Dan seperti yang saya bilang soal sosok yang melindungi dirinya sendiri, sosok itu semakin terasa di bab ini *sok tahu*. Cerpen 'Karena Apa' yang mengenalkan saya pada masgun ada disini, dan tulisan berjudul sama dengan buku ini jadi penutup keseluruhannya. 

Aku tidak sedang mencari teman minum kopi atau membaca buku, tidak juga sedang mencari teman naik gunung. Aku mencari teman hidup di dunia dan akhirat. Seseorang yang bisa bersama menuju-Nya. Dan aku tidak peduli dengan yang selain itu. (Karena Apa, halaman 181)


Jadi gimana buku ini? 3 of stars from meWell, kalo kamu lagi suka cerita cinta, atau mau digombalin (?) bisa lah baca buku ini, haha. Baiknya, masgun ini melek agama, jadi tersisiplah dengan cantik. Tapi yaa.. dengan terlalu banyak judul bisa membuat kebosanan. But somehow, mungkin karena usia si masgun ini beda tipis ama saya, bahasannya cocok lah. Saya jadi ingat tulisan dua orang juga sih, kayaknya mereka bahkan bisa lebih dari sosok masgun ini.



Love,
-iMa

**Gambar di comot dari google karena saya lupa ngefoto, haha
***ditulis 21.06.2015 sambil leyeh - leyeh menunggu adzan maghrib

taken from here

Pagi ini saya tiba - tiba teringat dengan buku wajib bulan Ramadhan yang dulu saya miliki ketika SD, SMP, bahkan SMA. Semacam buku tugas untuk pelajaran agama yang mewajibkan kita mencatat amalan - amalan yang dilakukan di bulan Ramadhan. Mungkin, kamu juga pernah memilikinya?

Buku itu dihabiskan dalam sebulan, sambil menghitung - hitung hari dari awal sampai akan lebaran. Memasukkan alasan - alasan ke dalam tabel pemenuhan puasa.

Kalo ketiduran setelah sahur dan nggak pergi ke masjid saat subuh, saya akan memaksa entah siapa di rumah yang juga belum sholat untuk jadi imam dan menandatangani bab 'Sholat Subuh' di buku itu.

Bagian paling seru ketika saya dan teman - teman akan berlomba ke masjid untuk terawih dan berjajar menunggu imam selesai ceramah untuk mengantri tanda tangan bab 'Sholat Terawih'. Kala itu ustadz yang jadi imam terawih bak artis yang dikejar penggemarnya sambil menyodorkan buku yang sama.

Atau mungkin juga, ketika menghitung halaman - halaman Quran yang berhasil di baca. Waktu itu, One Day One Juz belum sepopuler sekarang, menuliskan bahkan berhasil membaca satu juz akan jadi pencapaian tersendiri. 

Sampai akhirnya, tiba hari Idul Fitri, dan pengisian buku itu sudah mencapai halaman final. Halaman tentang ceramah agama di hari Raya, tentang siapa penceramahnya dan detail di dalamnya. Kami khusyuk menyimak ceramah, sambil sesekali mencatat kutipan di dalamnya. 

Masa - masa sekolah itu sepertinya jadi masa menilai agama dengan angka. Apakah murid dengan tanda tangan lebih banyak akan mendapat nilai sempurna? Atau sebaliknya? 

Dan ternyata, saya merindukannya..
Bertahun - tahun melakukan itu, lama - lama menjadi kebiasaan. Betapa saya bersyukur sempat bersekolah seperti itu, meski dulu tujuannya mengumpulkan sebanyak - banyak angka.

Malam ini sholat terawih pertama di bulan Ramadhan. Cukup lah malaikat di kanan - kiri kita mencatat amalan - amalan Ramadhan mulai nanti. Cukup buatlah mereka kewalahan :)

Marhaban Yaa Ramadhan, semoga kita dapet menjalaninya dengan khusyuk sampai lebaran datang.


Happy Fasting,
-iMa


Inget dong beberapa waktu yang lalu saya diajakin Indah buat ikutan Bincang #KulinerIndonesiaku? Nah, gara - gara itu jadi kenal ama mas Arie, dan dapet undangan deh buat ke FJB 2015 hari Minggu, 31 Mei. Cuaca Surabaya yang panas banget siang itu, orang - orang yang melimpah ruah, parkiran yang penuh, tetep lah ya nggak menyurutkan buat ke FJB ini. 

Gerbang FJB 2015
 
 
voucher icip - icip

Setelah ngisi daftar hadir, ketemu beberapa temen, saya diberi seamplop voucher icip - icip, horaay! Eniwei, dari gerbang masuk FJB, ada booth - booth foto dengan nuansa dapur tradisional yang bisa langsung cetak *katanya, tapi saya males antri, wkwk*. Lalu ada juga booth yang jelasin tentang kedelai Malika yang jadi inti dari kecap Bango tersebut. 


 *credit to @makanmasak

Ada demo masak juga, area bermain untuk anak - anak, pameran masakan - masakan Indonesia, dan tentu saja booth - booth yang jualan kuliner Indonesia. Saatnya memanfaatkan voucher, perburuan pun di mulai~ 

Nasi Rendang Sayur Kapau Uni Nur

First stop saya ke "Nasi Rendang Sayur Kapau Uni Nur", secara saya ngidam nasi Padang sejak beberapa hari lalu, dan meski ini embel - embel nya Kapau, saya nggak tau bedanya ama nasi Padang apaan -_- *digetok*. Seporsinya juga mirip banget ama nasi Padang, nasi, daging rendang, sayur daun pepaya, dua macam sambal yang alhamdulillahnya nggak terlalu pedas. 


 Mie Koclok Mas Edi

Kedua, saya ke "Mie Koclok Mas Edi Cirebon", mie dengan kuah kental yang mengingatkan saya pada mie Ongklok khas Wonosobo. Sebenarnya sih kalo secara rasa - rasa mirip aja sih ama mie godog, disajikan dengan suwiran ayam juga, tapi kuah kentalnya ini bening kalo ongklok kan agak - agak berwarna gitu, hehe. Kata yang punya booth, bahkan di Cirebon pun mereka nggak buka cabang! Beruntunglah bisa nyobain :D

Display Bandeng Asap - Bandeng Bakar Bu Ulfa
 
Ketiga, saya beralih ke booth bandeng yang sebelahan ama mie koclok : "Bandeng Bakar Tanpa Duri Bu Ulfa". Ini sih deket - deket Surabaya aja sih, asli Sidoarjo, dan saya benernya juga nggak ngerti apa di Sidoarjo booth Bu Ulfa ini ngehits apa nggak :p. Aneka bandeng mulai dari Bandeng Bakar, Bandeng Asap, Bandeng Presto, dan Otak - otak Bandeng sudah ada dalam kemasan kotak lengkap dengan sebotol kecil "saus". Saya nyobain Bandeng Bakar dan Otak - otak Bandengnya. Bandengnya nggak terlalu besar, nggak pedes, tapi kurang nendang sih bumbunya menurut saya, hehe. Enakan yang dari Gresik tuh *eh
"Food Court" ala FJB 2015  

Abis itu sih saya nyari tempat duduk karena bawaan udah banyak dan hawa nya makin panas. Bagusnya, di FJB ini tempat duduknya di sediakan banyaak banget, udah mirip foodcourt lah. Dan senangnya juga, petugasnya tanggap banget bersihin meja yang abis ditinggalin. Di beberapa tempat juga disediakan lokasi untuk piring kotor, tempat sampah dan air putih :D

Tengkleng Klewer, the best!
 
Keempat, saya keliling lagi dan akhirnya nyobain "Tengkleng Klewer Bu Edi Solo" *kenapa banyak nama Edi sih, kan jadi inget samaa..* *abaikan*. Defaultnya, seporsi ini disajikan dengan nasi, tapi bisa request kok tanpa nasi, jadi dapet tengkleng lebih banyak hahaha. Tengklengnya enak! Kayaknya ini yang paling enak saya cobain hari itu. Itu daging udah langsung copot aja dari tulangnya, kuahnya nendang meski nggak mlekoh *which is saya emang nggak terlalu suka kuah mlekoh*, cuocookk! Kata si ibu, lokasi asli jualannya di deket Gapura Pasar Klewer Solo. Boleh banget tuh di cobain kalo berkunjung ke Solo :D

Antrinya saingan ama Martabak Mesir Restoran Sederhana

Kelima, saya belain antri di Bebek Kaleyo. Karena saya nggak pernah nyoba dan nggak ada di Surabaya. Bebek nya macem - macem sih, dari bakar, goreng, lombok ijo, cetar, tapi mereka nggak bawa varian peking. Antrian panjang ternyata membawa saya ke nasi bebek dengan ukuran bebek yang nggak cukup besar dan rasa nggak lebih canggih dari dunia per-bebekan Surabaya, hehe. Herannya, bahkan kata teman saya di Jakarta, outlet - outlet Bebek Kaleyo ini selalu rame! Ah.

Warung Apung Rachmawati

Keenam, selain bebek saya juga beli menu ayam. Ada ayam dari "Warung Apung Rachmawati" yang benernya juga ada di daerah Lontar *tapi saya juga belom pernah kesana sih :p*. Ayamnya dari goreng, bakar, ampe yang berbumbu - bumbu. Tapii kayak si bebek, ini juga biasa aja sih, hahaha. Cuma porsinya komplit! Ada nasi nya, lalapannya, bahkan tempe - tahunya.


Lontong - Sate - Bumbu Sate!
 
Ketujuh *gila, ternyata banyak banget*, nyobain yang ringan lah. Ada sate jamur dari "Sate Jamur Tiram Mas Oney Jogjakarta" yang kayaknya pas ke Jogja dulu nggak pernah nemu, hehe. Surprisingly, rasa jamurnya bener - bener tersamarkan. Ini sih macam sate vegetarian yang lumayan enak! Ada lontongnya juga kalo loh.

Terakhir, buat minumnya saya beli produk Unil*ver lainnya, ada Buav*ta dan teh Sari M*rni yang di banderol dengan harga masing - masing 5k dan 2k. Puas banget deh icip - icipnya, vouchernya bikin saya hemat abis - abisan di akhir bulan :D Kalo pun nggak pake voucher makanan - makanan ini bisa dibeli denga harga 15k-20k aja, worth it kan?

Thank you so much mas Arie dan Bango! Sampai jumpa di FJB tahun - tahun mendatang *dadah dadah*.. Dan ya, Jakartaaaa, FJB 2015 akan ada di tanggal 14 Juni di kota kalian, weekend ini gaes, boleh banget dicoba :)))

Nomnom,
iMa

credit to  +Guntur


"Halo"
"Hi"

"Bagaimana kabarmu? Baik?"
"Iya"
"Ah, baguslah"


Dan suara di seberang telepon itu pun tidak terdengar lagi. Kamu menutupnya.

***

Aku tahu, kamu yang memutuskan untuk pergi. Ah tidak, lebih tepatnya membiarkannya pergi dan tidak mengejarnya kembali, bukan? Dan ternyata apa sekarang kamu sadar, ini tidak semudah yang kamu pikirkan ketika mengepak pakaian mu ke dalam koper, memesan penerbangan paling pagi untuk pulang, dan berakhir dengan menangis semalaman? 

Aku tak akan bertanya padamu apa kamu mencintainya. Aku tahu kamu masih mencintainya meski tak ingin. Seperti mug putih berisi teh hangat yang kamu gunakan tiap pagi, waktu berlalu dan teh itu meninggalkan bercak di sana. Bahkan kamu tetap bisa merasakan hangatnya hanya dengan melihat bercak itu, bukan?


Life can only be understood backwards, but it must be live forward. Kamu menyakinkan dirimu sendiri. Diam - diam kamu menghitung kebodohan - kebodohan yang kamu lakukan tentangnya. Berapa banyak hari yang kamu gunakan untuk merapal mantra untuk tetap berada di sisinya. Berapa banyak hari yang kamu relakan untuknya. Berapa banyak hari yang kamu gunakan untuk membohongi dirimu sendiri. Untuk apa kamu lakukan itu, mau membakar daftar panjang kebodohan itu?

Tapi kamu harus tahu bagaimana Tuhan menganugerahkan ingatan yang baik tentang perasaan kepada kita. Hanya dengan melihat dia, segala ingatan tentang masa lalu mu seakan berbentuk slideshow tepat dihadapanmu. Saat kalian pertama kali bertemu, pelukan - pelukan hangatnya, tempat - tempat yang pernah kamu kunjungi bersamanya, dan berakhir dengan tayangan saat dia bilang dia tidak bisa terus bersamamu. Matamu mengerjap, dan yang ada di hadapanmu masih dia dengan senyuman khas yang diam - diam kamu rindukan.


Seharusnya aku menyadarkan mu kalau sosok itu nyata. Membiarkan dirimu mematung seperti ini membuatku gemas. Apa yang ku bilang tadi, ini tidak sederhana. Kamu terlalu mencintainya dan melupakannya jelas pekerjaan yang sia - sia, Tuhan belum mengenalkanmu dengan amnesia, semua tentangnya masih berada di tempat semula.


Tolong tersenyumlah. Apa aku sudah bilang kalau hidup juga tidak mudah untuknya setelah kamu meninggalkannya? Kenapa sekarang jadi sulit sekali memulai pembicaraan dengannya?


***




A.N : Dedicated to Guntur, but the story is not about him (and not about me too :p). I just felt hurt after looking at his picture and ended up with this post, hahaha.


The title is inspired by 'Re' by Nils Frahm.

(just) be happy people.



Love,

-iMa


Kayaknya dari tengah tahun kemarin, mungkin juga lihat dari kesuksesan pendahulunya, event macam ini jadi marak di Surabaya. Dan kali ini, giliran on Market Go! yang mencoba peruntungannya. Event ini ada di Convention Hall Tunjungan Plaza dari tanggal 22-24 Mei 2015 *masih ada waktu hari ini dan besok, gaes!*

Hari pertama kemarin, saya dan Ririn nyempetin kesana. Let's take a look! Buat masuk kesini, kita nggak perlu beli tiket, it's free, yeay! Pas masuk, langsung inget sama Basha Market, kita disambut dengan dinding warna warni yang bisa banget buat di jadiin background foto *teteep*. Btw, kalo kita post foto di Instagram pake background mereka, kita bisa dapet tas canvas gratis loh.. you must try, lumayan.


 

Seperti Basha/Sunday Market, on Market Go! nggak cuma jualan makanan. Tapi ada juga stan - stan baju, furniture, dan juga pernak - pernik cantik. Yang yaa.. kalo saya mah, cuma ngagumin bentar tapi jalan terus nyari stan makanan *dikeplak*. Ohya, ada pameran fotografi dari Advan Matthew : Oral.

Gimana stan makanannya? Good news, stan yang ikutan lumayan banyak yang bukan pemain lama di bidang pop-up-bazaar, haha. Jadi bisa nyobain jajanan yang baru, asik! Kemarin kita beli beberapa, dan ini yang sempat di foto.

Bern Pie by Zopf.




Zopf ini merupakan Switzerland Authentic Homemade Bakery. Di balik dapurnya, ada om Bule yang kayaknya sih, jadi 'otak' disini. Varian pie nya ada dari yang sweet sampai savory. Dari apple pie sampai cheese pie. Kalo Bern Pie ini, ini merupakan Blueberry Pie. Rasanya? Agak beda sih ama pie mini yang lagi musim itu, ini lebih keras, rasanya tapi lebih kuat. Tekstur crust nya lebih banyak campuran dan keliatan berpasirnya. Paling sukanya, aroma cinnamonnya, masya Allah lah :D

Chocolate Pot by Kabinet Coffee Co.


Kafe yang ada di Surabaya Barat ini ikutan di on Market Go! Mereka jualan kopi dan beberapa snack. Somehow, saya tetiba ingat Union Deli, hahaha. Tapi disini kita nggak nyoba kopinya, kita nyobain mereka punya Chocolate Pot. Kue ini belakangan juga ngetren sih. Isinya? Ada kacang di lapisan bawah, semacam brownie (atau lava cake?) di tengah, dan 'tanah' cokelat di atasnya, di hiasi daun mint sebagai tanamannya, dan di kemas cantik dalam mini pot.

Raspberry Cake by Scrumptious.




Sebelum ada disini, ngikutin giveaway nya Scrumptious dan bilang pengen nyobain Raspberry Cake versi mini. Ah, dan mereka emang nyediain *senang*. Cake ini layered chocolate cake, pake mousse cokelat, and I dunno, itu jelly(?) dari pure raspberry ada di tengah - tengah lapisan cake ini. Jadi semacam ada kesegaran di tengah pekatnya cokelat *halah*. 

Vanilla Caramel Pannacota by Exquisite.



Jadi sebenarnya, banyak yang jualan pannacota ataupun silky pudding di on Market Go! ini. Tapi, kita akhirnya milih ini, haha. Ada varian vanilla caramel dan coconut. Kalo secara lucu, lucu si coconut sih, pannacotanya pake saus warna biru gitu, haha. Tapi milih aman lah ya pake karamel. Pannacotanya lembut, karamelnya enak, toppingnya pake potongan red velvet *yes, they sell it too*, chocolate mousse, dan crispy chocolate ball. Enak sih, cuma mousse nya nggak cocok di lidah saya :p

Creme Brulee by La Ricchi Ice Cream.



Beberapa kali lewat - lewat doang di depan La Ricchi, tapi nggak pernah tau gimana rasa es krim nya. Ternyata.. hmmm not bad, masih di bawah ice cream favorit sih haha. Tapi, si creme brulee nya nyupport es krim nya banget nih, lembut banget. Dan, lebih profit sih kalo beli yang ini, secara cuma nambah 5k dari harga satu scoop es krim buat dapetin menu ini. Pas makannya di barengin ama 'tanah' cokelatnya si Kabinet, huoo uenaakk..

Selain itu *yang nggak ke foto*, si Ririn beli juga The Croux, yang kalo buat rasa originalnya, saya masih suka almond crispy nya Wisata Rasa, hehe. Juga nasi dari Huang Ho yang bikin kenyang tapi masih bisa hemat. Beberapa pemain lama macam Dough Darlings, St. Claire, Sweets O Treats, Papepo, Nutrilife, dkk bisa dicoba.

Overall, saya suka on Market Go! ini. Seenggaknya, yang dijual nggak semuanya ada label mahal nya *apalagi buat stan - stan selain makanannya, boleh banget!*. Konsepnya cute, dan juga, yang mau ikutan workshop, di on Market Go! ada juga loh, go check their Instagram for further info!

Happy Weekend,
-iMa

Berapa kali sih dalam setahun kita pergi ke stasiun? Kalau saya, bisa dihitung dengan jari. Tapi, saya selalu suka stasiun. Ketika kita duduk di bangku menikmati detik - detik kereta datang, suara peluit panjang dari petugas kereta, riuh menyambut seseorang yang datang dari kota lain, pelukan - pelukan hangat melepas seseorang, little talks in a crowd..

Dan, kemarin akhirnya saya punya alasan pergi ke stasiun untuk tujuan lain : makan! Karena stasiun Gubeng sekarang punya Loko Cafe yang cantik dan instagram-able banget, hahaha. 

 

Kalo lihat Loko, entah kenapa langsung bayangin kopi dan snack, and they have it! Selain juga beberapa makanan berat dari simple dish macam pasta sampai nasi goreng yang Indonesia banget. Tapi berhubung kesananya sore - sore, akhirnya kami lebih memilih "ngemil" daripada makan makanan berat *lagian kalo ngemil kan lebih hemat *plaak.
Belgian Waffle Ala Mode

Pilihan saya jatuh ke Belgian Waffle Ala Mode, waffle yang dicetak bulat itu sudah dipotong menjadi 4 bagian, di siram saus strawberry dan disajikan dengan es krim vanilla. Bukan Belgian Waffle yang saya harapkan, cruchy nya kurang berasa, saus strawberry nya terlalu asam, yang untungnya tertolong dengan es krim nya, haha. 


Double Trouble Pancake

Teman saya nyobain Double Trouble Pancake. 2 tumpuk pancake tebal, dengan topping keju parut dan saus cokelat. Pancake nya cukup fluffy, tapi kerasa kurang butter *sok tau banget*, teksturnya cepet mrotol *bahasaku, rek!* kayaknya nih ya, lebih enak enak kalo dia juga pake es krim.



Minumnya, kami pilih Ice Mocchacino dan Ice Chocolate Float. Rasa kopi di mocchacinonya nggak kuat, nggak terlalu manis, ah, sepertinya saya suka kopi ini. Kalo Ice Chocolate Floatnya itu blended chocolate ice dengan tambahan es krim di atasnya. Saya prefer si Moccha, hehe.


 


Simple place, simple menus, and affordable price! Mungkin itu yang bisa mewakili Loko. Dan berada di dalam stasiun, berdekatan dengan jalur kereta api dan ruang tunggu penumpang bikin suasana magis dari stasiunnya terasa. Pemandangan yang jarang dari balik kafe. Ohya, Loko ini ada di dekat mushola dan toilet stasiun *lengkap deh!*, ada colokan listrik meski nggak ada WiFi.



Lain kali, cobain makanan beratnya boleh tuh, lihat yang kemarin makan disitu, porsinya lumayan. Dan kalo mau naik kereta, kalo di bandingin ama kantin kereta, bungkus dulu dari sini lebih worth-it sepertinya, hahaha.

Price:3k-43k
Atmosphere:4/5
Services:3.5/5
Taste:3/5
Address:Stasiun Gubeng Baru. Jalan Masjid Baru No. 1, Surabaya

Happy Wednesday,
-iMa
Masakan Korea?
Saya sih paling apal palingan juga Toppoki! haha. Dari dapetin oleh - oleh pas temen kesana jaman kuliah, yang rasanya kayak sebulan(?) *tau nggak sih, mainan jaman SD, yang kita niup semacam gelembung itu*, nyobain punya nya si Pokki *enak*, sampai bikin sendiri gara - gara dapet sekilo toppoki dari Om yang balik ke Indonesia *dan ini yang paling enak :p. Lainnya? Kimchi mungkin ya. Tapi saya patah hati ama kimchi di Grand City *lupa merknya* yang rasanya bener - bener kayak makanan basi -_-

Salah satu resto Korea yang saya tau ya Kimchi-Go ini, haha. Soalnya banyak bertebaran di mall - mall Surabaya, meskiii.. waktu ada pertukaran mahasiswa Korea ke kampus, mereka bilang rasanya nggak Korea banget, wkwk. Tapi, apa salahnya di coba kan ya? Meski telat :D


Free appetizer kita dapet : Kimchi!
"Kimchi adalah makanan tradisional Korea, salah satu jenis asinan sayur hasil fermentasi yang diberi bumbu pedas. Setelah digarami dan dicuci, sayuran dicampur dengan bumbu yang dibuat dari udang krillkecap ikanbawang putihjahe dan bubuk cabai merah."
Kalo di banding yang terakhir saya makan di GC itu, punya Kimchi-Go better. Asam karena fermentasi kimchi nya masih bisa saya terima dengan baik, rasanya nggak terlalu aneh, dan tidak ada rasa basi(?) seperti kimchi yang lalu.


"JJajangmyeon (atau jjajangmyeon) adalah jenis Masakan Korea yaitu mi saus pasta kacang kedelai hitam. Jajangmyeon dipengaruhi kuliner Tionghoa, dan orang Tiongkok biasa menyebutnya Zhajiangmian (炸醬麵). Jajang artinya saus goreng, dan myeon artinya mie."
Saus pasta kacang kedelai hitam di atas mie nya Kimchi-Go ini dalam kategori saus kental, rasanya enak. Karena dulu pernah nyoba versi instan nya, versi fresh kayak gini lebih enak di makan, haha. Tambahan lain yang ada itu cuma telur rebus, yang well nggak cantik ada di atas mangkuk itu, hehe. Mungkin kalo nyoba saya harus request telur setengah matang aja deh :p


"Bulgogi (bahasa Korea api, dan 고기 daging) adalah masakan daging asal Korea. Daging yang digunakan antara lain dagingsirloin atau bagian daging sapi yang bagus.
Bumbu bulgogi adalah campuran kecap asin dan gula ditambah bumbu lain bergantung pada resep dan daerahnya di Korea. Sebelum dimakan, daun selada digunakan untuk membungkus bulgogi bersama kimchibawang putih, atau penyedap lain sesuai selera.
Di Jepang, makanan yang sejenis disebut Yakiniku. Dibandingkan dengan Yakiniku, bumbu daging untuk bulgogi dibuat lebih manis. Air pada bumbu cukup banyak sehingga daging tidak dipanggang di atas plat besi (teppan), melainkan di atas panci datar."
Karena kakak saya nggak makan beef, jadi kita makan varian lain Bulgogi yang aman : Chicken Bulgogi. Kalo kata saya sih ya, ini porsi irit. Lihat aja, potongan ayam nya terlalu kecil, bawang bombaynya juga dikit, di sajikan di atas hotplate gitu keliatannya malah nggak menarik gara - gara kegedean tempat, haha. Rasanya pun biasa aja, haha. 


Terakhir, nyobain yang ringan aja, Grilled Squid. Dan ternyata, menu sederhana ini malah yang paling enak di banding dua menu yang dipesan sebelumnya, haha. Squidnya nggak alot, bumbunya agak pedas tapi merasuk banget, dan ada di atas talenan gini lucu juga. Enak!

Minumnya? *lupa di foto*
Ocha dingin nya nggak sehambar di Yoshinoya bahkan jus kedondong nya lebih enak dari Blue Basil! Pelipur lara lah ya, hehe.

Menu lainnya bisa di cek di Official web Kimchi-Go, karena foto saya hilang entah kemana T_T *kayaknya udah mindahin ke laptop, tapi kok ternyata nggak ada*.

Kesini lagi? Mungkin lain kali saya nyobain makanan ringan nya aja lah, kayaknya mendingan :p. Atau, kita ke resto Korea lain, yuk! *ketawa kunti*


Price:Less than 100k
Atmosphere:3.5/5
Services:3.5/5
Taste:Food (3/5), Beverage (4/5)
Address:Tunjungan Plaza Lt. 5, Galaxy Mall Lt. 3, PTC


Annyeong,
-iMa
Previous PostOlder Posts Home