Learn from Dita

Kita tahu kehidupan seseorang, tahu gimana dia diterima atau nggaknya dimasyarakat, tahu betapa berharganya dia hidup, seringkali dengan sangat terlambat. Kebanyakan kita menyadarinya ketika kematian itu menjemputnya. Yap, kematian. Dan kematian pula yang akhirnya menjemput saudaraku, Dita, dan membuatku banyak belajar darinya.
Aku nggak terlalu mengenal Dita. Mungkin aku mengenalnya dulu, ketika kami sama – sama anak – anak dan bermain dalam satu lingkup, tapi ketika akhirnya kami beranjak remaja semua nggak seperti dulu lagi. Apalagi ketika akhirnya aku kuliah di kota lain yang memperlebar jarak pertemuan kami, dan sayangnya aku bahkan hanya mendengar berita kematiannya lewat sms tanpa ada di kota yang sama dengannya.
Jahat, itu yang aku bilang sama Tuhan ketika itu. Gimana Dia dengan teganya merenggut kesempatan hidup seorang gadis belasan tahun dengan tiba – tiba. Tanpa ada firasat apa – apa, tanpa ada pertanda apapun, Dia mengambilnya. Mengambilnya dari kami semua. Oke, actually dia memang milikNya, tapi, apakah harus secepat ini? Apakah harus dengan cara seperti ini? Nggak masuk akal.
Tapi toh hari itu memang harus menghampiri setiap orang. Setiap orang yang diberikan kesempatan olehNya untuk merasakan kehidupan di dunia ini akhirnya harus menyerahkan kembali kehidupan itu padaNya. Ketika itulah, kita bisa belajar dari orang – orang yang terlebih dahulu dijemput Izrail. Dan saat hujan turun sore itu, ketika akhirnya malaikat menjemput Dita, pelajaran pun di mulai.
Aku mengenal Dita sebagai gadis cantik yang punya kepribadian baik. Ramah pada siapa saja. Selalu berbagi dengan sesamanya. Meski kadang dia agak manja dan masih berebut untuk disuapi, hha. Dita yang pintar bermain piano. Dita yang kadang tampil untuk jadi model dadakan. Dita yang selalu tersenyum. Terakhir kali aku bertemu dengannya juga dengan senyum itu, senyum malu – malu miliknya. Dan sepertinya bukan aku saja yang melihatnya seperti itu. Betapa banyak orang yang datang ketika tahu kematian menjemputnya, betapa banyak orang yang merasa kehilangan, betapa banyak orang yang meneteskan air mata mengiringi kepergiannya, betapa banyak orang yang akan mengenangnya, betapa banyak orang yang mendoakan yang terbaik untuknya.
Jadi ingat lagunya Brad Praisley, what if she’s an angel. What if she's an angel sent here from heaven? Making certain that we're doing our best? Mungkin memang itu yang terjadi. Mungkin karena itu lah Dita nggak terlalu lama ada di dunia ini. Tuhan hanya mengirimkannya sebagai pembelajaran kita semua. Tuhan nggak memberinya pekerjaan tambahan untuk berlama – lama di dunia ini.
Well, semoga saja ketika suatu saat nanti kita juga dijemput kematian, kita bisa menyambut kematian itu dengan baik. Meninggalkan dunia ini dengan baik. Meninggalkan kebaikan untuk orang – orang disekitar kita. Mungkin seperti yang Dita berikan pada kita sekarang atau lebih baik lagi? Who knows. Untuk Dita, semoga dia akan tetap tersenyum dan Tuhan memberikan tempat terbaik untuknya.

Biar tetes hujan menjadi pencerita
Yang berkisah tentangmu kala dia tiba
Yang mengabadikan kenangan di tiap jejak kepergian
Sisa butir di jendela, maupun di atas pusara

(Hasbi)

22022011

Anyway, tulisan ini salah satu yang mau disumbang untuk project buku kenangan Dita, yang isinya tulisan tentang bagaimana yang kami *keluarga dan teman* rasa setelah Dita tidak bersama kami lagi, moga aja project ini berhasil *dan ini muat didalamnya* :D. Ohya, puisi di akhir itu puisinya temanku, Hasbi *add him on Facebook : M. Hasbi As* yang aku rampok kapan hari itu, hehe ;p.

Love love,
-iMa

Khuzaima

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment