LET'S LOST : Surabaya Trip with Arabische Kamp!


Pertama kali tau soal Let's Lost dari status teman SMA saya, Tanya, yang ternyata salah satu dari tim desain di Let's Lost. Nah, di bulan ini, Let's Lost mengadakan jalan bareng dengan judul "Surabaya Trip with Arabische Kamp", join lah saya di kesempatan kali ini, hoho. 

Kita berkumpul sekitar jam tiga sore di meeting point Hotel Kemadjoean, Jalan KH. Mas Mansyur (ada di balik kawasan religi Ampel). Yang gabung event kali ini ada sekitar 15 orang, baik itu dari pihak Let's Lost sendiri, maupun dari yang baru join kayak saya. Dan ternyata, fakta mengejutkannya, kebanyakan ternyata masih saudara se almamater *halah*, dari angkatan tua sampai yang masih berjuang skripsi, dari jurusan Elektro sama Biokimia. Huaa, so happy met new friends!

toko kitab tertua di Indonesia!

Dari Jalan KH. Mas Mansyur, kita bergerak ke Jalan Panggung. Disini kita nemu toko kitab tertua se Indonesia! Wew! Ada di Surabaya lohh ternyata. Sayangnya, waktu kesini sedang tutup (atau memang sudah tutup?), jadi kita nggak tau deh di dalamnya, padahal saya berharap kali aja mereka nyimpan kitab tertua juga, hehe.

Masjid Serang

Meneruskan perjalanan, di ujung jalan ini, ada salah satu masjid (atau dulu disebut langgar) yang termasuk golongan tua di daerah Ampel, yaitu Masjid Serang. Katanya sih, masjid pemberian keluarga India di kala itu. Tapi, karena kemaren nggak masuk juga, kalo dilihat dari luar sih, udah seperti masjid yang kekinian ya, meski menurut mas Adhiel di dalamnya masih ada beberapa bagian yang masih asli. Padahal kalo hasil baca disini masjid versi asli arsitekturnya bagus juga ya, khas Yaman, saya nggak tau deh kenapa nggak dipertahanin aja.

Pasar Ikan Pabean

Dari masjid Serang kita terus berjalan sampai akhirnya nemu Pasar Pabean! Oh God! Kalo suka masak seafood, ini surgaaa.. saya baru tahu loh kalo disini ada pasar seafood aneka rupa yang (lagi - lagi katanya) murah. Mbak Ayu yang pernah beli ikan buat bakar - bakar hanya menghabiskan sekitar 15k-20k sekilo! ikan! sekilo gaes! Kalo kata temen saya, ah, pantas seafood genteng besar itu bisa murah ya? Haha, bisa jadi mereka juga beli disini kan? :). Suasana mirip ada di pelabuhan (karena dulu dekat sini memang pelabuhan) hanya saja minus ini bukan pelelangan ikan. Sore itu, yang menggoda adalah pedagang yang menawarkan kepiting seharga 100k.

menara itu dulu mercusuar

ini masuk aset negara, loh *ada tulisan di pintunya* 

Berlanjut lagi. Sedikit berjalan setelah menembus pasar Pabean, kita akan menemukan Kalimas - Kalimas Udik. Dulu, daerah sini merupakan tempat singgahnya kapal - kapal, jadi semacam pelabuhan. Dengan bangunan di pinggirannya berfungsi sebagai mercusuar atau pun gudang - gudang penyimpanan barang. Duh, banyak yang cantik! Kala itu, disini lah pertemuan berbagai macam ras, dari China, India, juga Arab. Sekarang, bangunan - bangunan cantik itu sudah tidak terurus, meskipun ada sebagian yang menempati (rata - rata orang Madura, yang dulu merupakan anak buah dari para pedagang China-India-Arab itu). 

featuring Mas Niko, haha

menyusuri jalan kalimas udik

Setelah itu, kita berputar lagi melewati Jalan Panggung dan KH. Mas Mansyur menuju Jalan Sasak. Di jalan ini, dari dulu merupakan pusat komersil. Dan sampai sekarang, kita juga bakal nemuin aneka toko (kebanyakan toko parfum dan kitab) di kanan - kiri jalan. Dekat sekali dari Jalan Sasak, ada lorong tembusan menuju Ampel Suci. Yeay, we finally there, pusat ke-Arab-an Surabaya : Kawasan Wisata Religi Ampel.

Ampel Suci

Dari lorong - lorong Ampel suci, yang isinya aneka pedagang yang barang dagangannya khas Arab. Mulai dari kurma, air zam - zam, kacang - kacangan, kismis, perlengkapan ibadah haji, sampai kitab bisa dilihat (dan dibeli) disini. Kalo biasanya ada "oleh - oleh" dari ibadah haji, itu asalnya tidak jarang dari sini juga, hahaha. Eniwei, kayak di Aceh, yang cewek sebaiknya pake jilbab, jadi yang belum pake kayak saya gini, pakailah *jleb!*

Masjid Ampel Lama

Masjid Ampel Baru, featuring Indah

Di dalam kawasan masjidnya sendiri, ada masjid lama dan masjid baru. Ada kompleks pemakaman juga disini. Dari makam sunan Ampel, mbah Soleh (tukang bersih - bersih Sunan Ampel yang makamnya ada 9), mbah Bolong (yang kala itu membuat lubang, dan dari situ dapat melihat Ka'bah), para santri sunan Ampel, dan yang paling baru saya tahu, dan mungkin memang tidak terlalu menonjol di bandingkan makam lain di kompleks ini, yaitu adanya Bong(makam China)  dari keturunan keluarga Tjoa, Nyai Roro Kiendjeng. Kalo mas Adhiel bilang, ini merupakan makam dari istri sunan Ampel. Padahal, sejauh dari yang saya tahu waktu sekolah/ngaji, istri dari sunan Ampel itu ya Nyai Ageng Manila (ibu Sunan Bonang) dan Dewi Karimah (ibu Sunan Giri). Di tautan ini dijelaskan  Nyai Roro Kiendjeng merupakan murid Sunan Ampel, atau bisa baca juga di pdf ini, bahwa Nyai Roro Kiendjeng menikah dengan keluarga Tjoa, sehingga terjalinlah kekeluargaan antara Islam dan Tionghoa. Ah, saya kurang penjelasan.

 


Jumbo's Menu

Martabak Kari, 40k

Nasi Briyani Kambing, 35k

lihat kan tuh, mahal! hahahahaa

Dari kawasan ini, hari mulai beranjak maghrib. Perjalanan kami sudah di ujung jalan, jadi yang terakhir kami mencoba mencicip kuliner Arab. Kali ini di warung Jumbo, yang kalo saya sih tidak merekomendasikan, hahaha. Di post selanjutnya saya akan membahas kuliner Arab yang lebih rekomen daripada di warung ini, wkwk, insya Allah ya. Selain itu, di jalanan KH. Mas Mansyur, yang bisa dicoba adalah Kebab! Kayaknya kalo itu enak semua deh, asik!

Let's Lost Surabaya, difotoin sama mas Fahmi

Sebenarnya sih, kalo ke Ampel saya udah beberapa kali, tapi nggak pernah explore ke kawasan - kawasan di dekatnya, haha. Paling hanya ke masjid Ampel, atau malah sekedar makan nasi jagung di Pegirian *percayalah gaes, itu enak!*. Dan mungkin kalian juga? Mungkin lain kali, tempat yang saya kunjungi di atas, bisa kalian kunjungi juga :)

hello LosTrooper!
-iMa


Khuzaima Kousni

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment