BOOK REVIEW : Bumi (Tere Liye)


Paperback, 440 pages
Published : January 27th 2014 by Gramedia Pustaka Utama 
ISBN13 : 9786020301129
Language : Indonesian
URL : http://gramediapustakautama.com/buku-detail/87488/Bumi
Series : Bumi #1

Jadi, buku ini sudah ada di tangan sejak hmm, 2 bulan? 3 bulan? lalu. Tapi, saya baru baca weekend kemaren, wkwk *maafkan saya ya yang punya buku :p*. Karena saya punya ekspektasi yang salah juga sih. 400an halaman, buku terakhir Tere Liye yang saya baca itu kisah bang Borno di Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, yang yaa.. lebih berasa Tere Liye (kalo liat dari status update beliau :D), dan 2-3 bulanan kemarin saya nggak ada mood buat baca genre itu. Tapi ternyata, sepertinya Tere Liye mencoba genre baru : Fantasi (but anyway, saya rasa ini antara fantasi dan dystopia sih). Jadinya nggak sampai sehari udah tamat, yeay!

Di BUMI, kita dikenalkan dengan dunia paralel, ketika sesungguhnya ada beberapa dunia berjalan di dunia kita. Dan jujur, ini yang membuat saya tertarik. Ketika sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Kita dikenalkan dengan Klan Tanah, Klan Bulan, Klan Matahari, dan Klan Bintang. And yes, kita akan berkenalan juga dengan anggota klan yang berbeda, kecuali klan terakhir yang saya sebutkan.

Kisahnya tentang Raib, remaja 15 tahunan yang mengira dirinya hanya remaja kebanyakan tapi ternyata mewarisi kekuatan spesial : dia bisa menghilang (dan menghilangkan). Bisa kalian bayangkan? Saya seperti terlempar ke kisah - kisah superhero jaman dulu. Dan juga, masih ingat dengan dunia lain di balik lemari dalam Narnia, kan? Atau Alice in Wonderland? Nah, Raib juga mengalaminya, dari buku PR Matematika nya, dia membuka sekat ke dunia lain, dunia klan bulan.

“Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang.” - Selena, pg. 85
Situasi yang aneh (baca : ajaib) akhirnya memaksa Raib membuka mata bahwa yang dialaminya memang nyata. Well, seperti kita yang mau nggak mau percaya bahwa hal gaib itu ada, Raib pun dipaksa percaya bahwa dia tidak pernah dimiliki oleh bumi, dia bukan anggota klan tanah. Di dunia klan bulan ini lah, kisah Raib dimulai.

Raib memulai petualangannya tidak sendiri, ada temannya Seli, anggota klan matahari dan Ali, si jenius dari klan tanah. Selain itu ada Ilo dan Av, para anggota klan bulan yang memihak mereka. Tujuan utama mereka menolong Selina, yang juga anggota klan bulan dan kembali ke bumi. Tapi, tentu semua tidak mudah bukan? Karena mereka harus berhadapan dengan Tamus, panglima di klan bulan yang memiliki tujuan mengembalikan sang Tanpa Mahkota. Bahkan, sampai akhir buku mereka belum kembali ke Bumi (ups, spoiler :p). Saya membayangkan dunia klan bulan ini sebagai negara, bukan keseluruhan planet, itu terlalu besar.

Sisi dystopia saya temukan ketika cerita sudah beranjak ke dunia klan bulan. Politik, perebutan kekuasaan, kerusuhan, pengalihan isu karena kepentingan pribadi. Inget Hunger Games/Maze Runner, maybe? ini masih setipe dengan itu. Karena Raib dkk, para remaja kelas satu esema, dipaksa untuk jadi pemeran utama dalam pergelutan politik ini *halah*. Dan saya bacanya pas di Indonesia lagi carut marut gini, ah.

Ngomong - ngomong, klan bulan ini menarik loh. Peradaban mereka sangat maju, transportasi yang efisien, rumah yang efisien, segala hal yang efisien. Yang paling saya ingat, adanya tunnel - tunnel yang menghubungkan semua kota. Mungkin yang udah liat Robots atau mungkin Meet The Robinsons bisa punya bayangan lebih nyata, hehe.

Jadi, apakah Raib, Seli, dan Ali berhasil menghadapi lawan - lawan mereka? Siapa Tamus? Ada apa dengan sang Tanpa Mahkota? Apa sebenarnya yang terjadi di klan Bulan? Kalian baca saja. Saya takut spoiler deh kalo bahas tentang ceritanya *plaak*. Tapi kalo ditanya apa saya suka buku ini? Jawabannya iya. Percobaan Tere Liye di genre ini berhasil. Sayangnya, saya jadi agak merasa tidak membaca karangan Tere Liye, entahlah. 



P.S : Bagaimana kalo bulan depan beli Bulan? 
-iMa

Share:

0 comments