MOVIE REVIEW : Surat dari Praha



Ngomongin instrumen musik, kalo saya di suruh milih, piano jadi salah satu favorit saya. Meskipun saya nggak bisa mainin hahaha, tapi saya suka dengerinnya. Meskipun nggak ada yang nyanyi, instrumen piano bisa bikin saya senyum - senyum sendiri, bisa bikin saya manggut - manggut, bisa bikin saya diem - diem nangis, tapi nggak jarang juga bikin berkerut dan akhirnya nge-next playlist *eh*

Saya makin suka 'Cheese in Trap', karena makin kesini kita makin bisa liat Baek In Ho main piano. Saya makin cinta ama Nam Taehyun karena suara dia pas banget kalo diiringi piano, ato saya inget saya ampe jerit - jerit sendiri di kamar waktu liat V app dan Chanyeol main piano. Di SoundCloud *dan YouTube* saya ketemu ama The Piano Guys, Nils Frahm, Gardika Gigih, dan juga Rheynah. Jauh sebelum ini, mungkin saya terpengaruh selera kakak saya yang sering muter Maksim Mrvica. And that's why saya excited waktu tau David Foster ada di JJF 2016! *kode *beliin tiket dong :p. 

Dan, Surat dari Praha memanjakan kuping kita dengan lagu - lagu yang diiringin instrumen piano. :)


Saya nonton film ini karena rame aja sih di timeline twitter *iya, saya segitu mudahnya terpengaruh*. Saya nggak ngerti ceritanya tentang apa *kebiasaan*, bahkan saya baru tau film ini 'kontroversial' karena di anggap plagiat dari Kumpulan Cerpen nya Yusri Fajar dengan judul yang sama waktu nulis ini, wkwk. 

Cerita di buka dengan caption di layar tentang apa yang terjadi pada mahasiswa Indonesia di luar negeri pada masa Orde Baru. Dianggap komunis, kehilangan kewarganegaraan, dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Jadi ingat kisah Soe Hok Gie atau Habibie Ainun, saya bahkan ngira ceritanya bakal setipe itu.





Layar berganti kepada Laras (Julie Estelle), yang jadi anak kurang ajar, nggak pernah pulang, lagi proses cerai ama suaminya (Chicco Jerikho), tapi tiba - tiba datang menemui ibunya - Sulastri (Widyawati) untuk pinjam sertifikat rumah. Karena ya, ceritanya ini ada hubungannya ama biaya - harta gono gini dari perceraiannya. Dan, yang nggak di sangka, sebelum Sulastri mengabulkan permintaan ini, Sulastri meninggal.


Sebagai anak satu - satunya, Laras tentu saja mewarisi harta Sulastri, termasuk rumah (yang sebelumnya mau dipinjam sertifikatnya). Tapi ternyata, Sulastri ada rencana lain : Laras berhak mendapatkan warisan tersebut dengan syarat mengantarkan paket berupa surat dan sebuah kotak *yang entah apa isinya* ke Praha. 



Di Praha, Laras bertemu dengan Jaya (Tio Pakusodewo), laki - laki yang jadi tujuan surat Sulastri. Tak dinyana *ada di KBBI loh kata ini ternyata*  Jaya menolak paket Sulastri untuknya. Tanpa alasan yang jelas Laras diusir. Dan malangnya, di perjalanan kesel-sebel *iyalah nggak jadi dapet warisan gitu kan* Laras yang berencana kembali ke hotel malah di rampok oleh sopir taxi. Karena satu - satunya orang di Praha yang dia tahu cuma Jaya, akhirnya Laras kembali ke apartemen Jaya, and well, sebenarnya dari sini cerita sebenarnya di mulai. 




Berhubungan dengan Jaya, meski permulaannya nggak bagus, membuat Laras mengenal Jaya dan orang - orang di sekitarnya. Pada akhirnya dia mengetahui siapa sebenarnya Jaya, kenapa Jaya ada di Praha, kenapa Sulastri harus membuatnya mengantarkan paket itu, bertemu dengan Dewa (Rio Dewanto) - mahasiswa Arsitek yang jadi barista di kafe langganan Jaya *yang ngomong - ngomong, mbak sebelah saya langsung bilang 'Gila, Rio ini emang ganteng banget!' hahaha*, bertemu dengan orang Indonesia teman - teman Jaya, dan *saya bilang ajadeh ya - spoiler* membuat Laras menerima Jaya *terserah ini diartikan apa, wkwk*.




Overall, dengan aktor dan aktris Indonesia yang udah bisa di akui, lagu - lagu Glenn Fredly yang emang keren, Julie Estelle dan Tio Pakusodewo yang saya baru tahu bisa nyanyi *dan lumayan!*, dan asik aja waktu tau film ini nggak tipikal film Indonesia yang close epilogue, film ini layak tonton. Meski ya meski, menurut saya masih kurang nendang, hahaha. Tapi saya sempet terharu waktu teman - teman Jaya nyanyi lagu Indonesia Pusaka, merinding euy! Tentu juga, dengan lihat film ini kita belajar sedikit sejarah Indonesia, dengan sudut pandang lain.







3.5/5.
Happy weekend,
-iMa

Khuzaima Kousni

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

2 comments:

  1. Ternyata #TeamInHo, salah kenal ya dari #TeamYooJung , hahaha

    Aku juga suka banget kalau ada musik piano gitu, berasa adem. Aku belum nonton film ini dan emang udah lama banget ga ke bioskop. Pemainnya kece-kece! Minggu ini libur panjang, semoga ada kesempatan buat nonton, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga sempet nonton yaa teteh! :)
      tapi makin kesini aku jadi galau teh harus mihak ke YooJung atau tetep InHo hahaha

      Delete