Marhaban Yaa Ramadhan

taken from here

Pagi ini saya tiba - tiba teringat dengan buku wajib bulan Ramadhan yang dulu saya miliki ketika SD, SMP, bahkan SMA. Semacam buku tugas untuk pelajaran agama yang mewajibkan kita mencatat amalan - amalan yang dilakukan di bulan Ramadhan. Mungkin, kamu juga pernah memilikinya?

Buku itu dihabiskan dalam sebulan, sambil menghitung - hitung hari dari awal sampai akan lebaran. Memasukkan alasan - alasan ke dalam tabel pemenuhan puasa.

Kalo ketiduran setelah sahur dan nggak pergi ke masjid saat subuh, saya akan memaksa entah siapa di rumah yang juga belum sholat untuk jadi imam dan menandatangani bab 'Sholat Subuh' di buku itu.

Bagian paling seru ketika saya dan teman - teman akan berlomba ke masjid untuk terawih dan berjajar menunggu imam selesai ceramah untuk mengantri tanda tangan bab 'Sholat Terawih'. Kala itu ustadz yang jadi imam terawih bak artis yang dikejar penggemarnya sambil menyodorkan buku yang sama.

Atau mungkin juga, ketika menghitung halaman - halaman Quran yang berhasil di baca. Waktu itu, One Day One Juz belum sepopuler sekarang, menuliskan bahkan berhasil membaca satu juz akan jadi pencapaian tersendiri. 

Sampai akhirnya, tiba hari Idul Fitri, dan pengisian buku itu sudah mencapai halaman final. Halaman tentang ceramah agama di hari Raya, tentang siapa penceramahnya dan detail di dalamnya. Kami khusyuk menyimak ceramah, sambil sesekali mencatat kutipan di dalamnya. 

Masa - masa sekolah itu sepertinya jadi masa menilai agama dengan angka. Apakah murid dengan tanda tangan lebih banyak akan mendapat nilai sempurna? Atau sebaliknya? 

Dan ternyata, saya merindukannya..
Bertahun - tahun melakukan itu, lama - lama menjadi kebiasaan. Betapa saya bersyukur sempat bersekolah seperti itu, meski dulu tujuannya mengumpulkan sebanyak - banyak angka.

Malam ini sholat terawih pertama di bulan Ramadhan. Cukup lah malaikat di kanan - kiri kita mencatat amalan - amalan Ramadhan mulai nanti. Cukup buatlah mereka kewalahan :)


Marhaban Yaa Ramadhan, semoga kita dapet menjalaninya dengan khusyuk sampai lebaran datang.


Happy Fasting,
-iMa

Khuzaima Kousni

Februari, 18. Surabaya.

It's about accepting what's not meant to be, to be more awesome!

No comments:

Post a Comment