BOOK REVIEW : Hujan (Tere Liye)


Paperback, 320 pages
Published January 28th 2016 by Gramedia Pustaka Utama

ISBN13 : 9786020324784


Novel bang Tere yang saya baca setelah Bumi. Berharapnya sih semoga nggak se sci-fi Bumi *meski yang itu juga masih oke*. Hujan saya dapat dari preorder di Gramedia *dan dapat payung!*, tapi akhirnya baru selesai baca akhir Januari karena flu berkepanjangan. Alur maju mundur di novel ini menempatkan kita sebagai pendengar cerita. Cerita cinta tentang Lail dan Esok (atau Soke), cerita tentang kehancuran bumi, cerita tentang kehancuran manusia, cerita tentang melupakan, cerita tentang hujan.

Di buka dengan latar tahun 2050, di sebuah pusat modifikasi ingatan *iya, kalian baca hal yang benar kok, wkwk*, dan ya kita akan menjelajahi 8 tahun yang telah dilalui Lail.

"Apa yg hendak kamu lupakan, Lail?"
"Aku ingin melupakan hujan." - (halaman 9)

Semua berawal dari gempa bumi 8 tahun lalu yang mempertemukan Lail dengan Esok. Keduanya berhasil selamat dari kereta api bawah tanah yang membuat Lail kehilangan ibu dan Esok kehilangan empat kakaknya. Dari awal Esok bersinar *duh saya ngefans :p*, sudah terlihat genius di usianya, sudah bisa berpikir lebih dewasa. Saat Lail masih meratapi nasib, Esok sudah berpikir logis, menerima hal buruk yang terjadi pada mereka, bahkan berperan aktif di camp pengungsian mereka.  

Tahun - tahun berlalu dengan Lail yang akhirnya pindah ke panti setelah camp pengungsian ditutup, dan bertemu Maryam, partner-in-crime berambut kribo. Sementara Esok di adopsi oleh Wali Kota dan melanjutkan kuliah di ibukota, Lail dan Maryam memutuskan menjadi relawan muda. Di saat manusia bumi sudah mulai bangkit dari bencana pertama, mereka tidak menyadari bahwa hal itu hanya merupakan awal dari bencana - bencana lain.

"Sesuatu yang lebih mengerikan daripada gunung meletus skala 8? Apa itu, Prof?"
"Saat mereka merusak dirinya sendiri, menghancurkan dirinya sendiri, barulah mereka akan berhenti." - (halaman 123)

Lail dan Esok dengan segala lisensi yang mereka dapatkan membuat cerita cinta mereka complicated. Rumit karena mereka bukan sosok biasa di cerita ini. Rumit karena sejak awal kita sudah bisa menebak mereka bukan orang yang egois. Sukanya saya sama bang Tere, beliau kalo membuat cerita cinta selalu setipe gini, jaga hati banget, hahaha. Lail ataupun Esok tidak pernah bilang cinta, but everyone knows, bahkan sebelum Lail menyadari perasaannya sendiri. 

"Ada orang-orang yang kemungkinan sebaiknya cukup menetap dalam hati kita saja, tapi tidak bisa tinggal dalam hidup kita. Maka, biarlah begitu adanya, biar menetap di hati, diterima dengan lapang. Toh dunia ini selalu ada misteri yang tidak bisa dijelaskan. Menerimanya dengan baik justru membawa kedamaian." - (halaman 255)

Sesuai judulnya, di buku ini kita akan bertemu dengan hujan : hujan abu, hujan asam, hujan salju, dan bencana paling buruk yaitu ketika bumi tidak lagi mendapatkan hujan. Keadaan bumi yang (akan) semakin panas tidak memungkinkan manusia hidup di planet ini lagi. Sayangnya, tidak semua orang bisa diselamatkan. Hanya orang - orang terpilih yang mendapat kesempatan tersebut. Di fase ini kita bisa melihat bagaimana galau nya Lail dan Esok.

"Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya," - (halaman 201)

Di bagian akhir buku ini membuat kita belajar untuk menerima. Menerima hal baik dan hal buruk yang terjadi di hidup kita. Kenapa sosok Esok misterius? Kenapa Lail harus datang ke pusat modifikasi ingatan? Apakah mereka berdua termasuk orang - orang terpilih? Silahkan baca sendiri :p. Tapi kalo boleh saya bilang, buku ini happy ending.

"Bukan seberapa lama umat manusia bisa bertahan hidup sebagai ukuran kebahagiaan, tapi seberapa besar kemampuan mereka memeluk erat - erat semua hal menyakitkan yang mereka alami" - (halaman 317)
Overall, buku ini memenuhi harapan saya di awal, dan mengembalikan Tere Liye versi saya dengan buku yang quotable *eh*. Tapi, buku ini terlalu mengingatkan saya dengan Hafalan Shalat Delisa, dengan 2012, atau malah The 5th Wave juga Doraemon. 




3 of 5 karena saya ngefans ama Esok,
-iMa

Share:

6 comments

  1. Seru! Hujan kan emang banyak kenangannya, :D
    Aku pernah baca bukunya Tere liye dan suka. Tapi karena emang ga terlalu demen baca buku, lol, jadi ga ngikutin buku terbarunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, tapi yang ini nggak terlalu recommended, teh *eh*. dulu pernah baca yang mana?

      Delete
  2. Kalau dibaca sampai selesai mungkin lebih seru kali ya hehe.. halo salam kenal :)

    widazee.blogspot.co.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, salam kenal juga :)

      review ini dibuat setelah baca ampe selesai kok, silahkan kamu baca sendiri ya, dari saya sih kayak gini, hehehe.

      Delete
  3. GREAT POST!! Love it <3<3

    http://www.chippeido.co.vu

    ReplyDelete